Cara Menghitung Upah Lembur Yang Benar

Cara Menghitung Upah Lembur Yang Benar – Untuk melengkapi artikel sebelumnya terkait dengan cara menghitung pesangon karyawan PHK, kali ini kami akan membagikan informasi terkait dengan cara menghitung upah lembur karyawan dengan benar.

Seperti yang kita tau bahwa setiap perusahaan atau perkantoran tentunya memiliki sistem kerja lembur atau yang sering disebut dengan istilah over time. Kerja lembur atau over time merupakan bekerja dengan melebihi batas waktu yang telah ditentukan, namun anda tidak perlu khawatir karena kerja lembur ini sendiri sudah diatur oleh undang-undang sehingga untuk setiap waktu lembur anda pasti akan mendapatkan upah tambahan.

Cara Menghitung Upah Lembur

 

Kerja lembur atau over time biasanya menjadi salah satu hal yang sangat tidak diinginkan oleh para karyawan, kenapa? Karena kerja lembur berarti akan pulang terlambat dan waktu kerja lebih lama dari waktu biasanya. Namun bagi sebagian orang menganggap bahwa kerja lembur adalah sebuah keuntungan tersendiri karena bisa memperoleh upah tambahan dari biasanya.

Kerja lembur biasanya dilakukan dengan tujuan mengejar target produksi, akan tetapi apapun itu alasannya anda sebagai manajer juga harus memahami betul regulasi serta ketentuan yang mengatur tentang mekanisme pelaksaan kerja lembur tersebut dengan tepat.

Penyebab Terjadinya Kerja Lembur

Kenapa terjadi kerja lembur atau over time? Tentu kita sebagai karyawan atau manajer harus mengetahui penyebab terjadinya kerja lembur pada perusahaan atau perkantoran. Berikut penyebab terjadinya kerja lembur yang sering terjadi di perusahaan atau perkantoran :

Baca Juga :   Pengertian Akuntansi Secara Umum, Tujuan, Fungsi dan Manfaatnya

1. Kerja lembur terjadi biasanya karena adanya pesanan (order) yang melebihi kapasitas produksi pada waktu kerja normal, sehingga kita memerlukan waktu tambahan untuk menyelesaikan orderan tersebut.

2. Kurangnya tenaga kerja juga menjadi salah satu penyebab  terjadinya kerja lembur karena tenaga kerja lainnya harus mengerjakan pekerjaan yang lebih untuk menutupi kekurangan tersebut.

3. Kerja lembur biasanya terjadi karena adanya kerusakan mesin atau peralatan produksi atau permasalahan lainnya yang menganggu proses kelancaran produksi.

4. Selain itu, kekurangan bahan material pada saat produksi juga bisa membuat kerja lembur karena memerlukan waktu kerja lebih untuk menutupi kekurangan jumlah produksi saat bahan material telah tiba.

5. Selain keempat faktor tersebut, hal yang bisa menyebabkan kerja lembur adalah rendahnya produktivitas kerja.

Perlu kita ketahui bersama bahwa jam kerja karyawan di negara kita Indonesia ini telah diatur dalam UU No, 13 Tahun 2003 mengenai ketenagakerjaan khususnya pada Pasal 77 ayat 1 yang berbunyi :

  1. 7 (tujuh) jam 1 (satu) dan 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, atau
  2. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Selain itu, untuk perhitungan kerja lembur juga telah diatur dalam Keputusan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan No. KEP.102/MEN/VI/2004. Dalam Pasal 8 yang mengatur perhitungan upah lembur berbunyi :

  1. Perhitungan upah lembur berdasarkan pada upah bulanan
  2. Cara menghitung upah sejam adalah 1/173 kali upah sebulan.

Selain itu, untuk rata-rata perusahaan yang bergerak dibidang perakitan elektronik biasanya mengadopsi sistem upah bulanan sehingga nantinya kita perlu mengetahui cara menghitung upah lembur dengan sistem upah bulanan.

Baca Juga :   Supervisor Adalah - Pengertian Supervisor, Tugas, dan Tanggung Jawab SPV

Cara Menghitung Upah Kerja Lembur

Berikut adalah cara menghitung upah kerja lembur berdasarkan pasal 11, apabila kerja lembur dilakukan pada hari kerja :

  1. Untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah sejam
  2. Dan untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar 2 (dua) kali upah kerja.

Selain itu, cara menghitung upah kerja lembur dihari kerja juga berbeda dengan cara menghitung upah kerja lembur di hari istirahat/ libur seperti hari minggu atau hari libur resmi untuk waktu kerja 6(enam) hari kerja 40(empat puluh) jam seminggu, maka :

  • Untuk perhitungan kerja lembur 7 jam pertama dibayar 2 kali upah sejam, dan jam kedepalam dibayar 3 kali upah sejam dan untuk jam lembur kesembilan dan kesepuluh akan dibayar 4 kali upah sejam
  • Selain itu jika hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek untuk perhitungan upah lembur 5 jam pertama dibayar 2 kali upah sejam, dan untuk jam keenam maka akan dibayar 3 kali upah sejam dan jam lembur jam ketujuh dan kedelapan akan dibayar 4kali upah kerja sejam.

Mengapa harus dibagi 173?

Biasanya untuk rata-rata kerja jam dalam sebulan itu harus dibagi 173. Kenapa demikian? Berikut ulasan perhitungannya :

Jam Kerja per Minggu : 40 Jam
Jumlah minggu dalam setahun : 52 minggu
Jadi Jam kerja per tahun : 2080 Jam (40 x 52)
Rata-rata Jam Kerja per bulan : 173 (2080 Jam/12 bulan)

Baca Juga :   Akuntansi Biaya : Pengertian, Tujuan, Klasifikasinya

Contoh Kasus Perhitungan Upah Lembur

Contoh Kasus I

Seorang operator produksi dengan gaji bulanan sebesar Rp. 3.000.000 diminta oleh perusahaan untuk kerja lembur (overtime) pada hari kerja biasanya seperti dihari senin selama 4 jam. Maka berapahak upah lembur yang harus dibayar oleh perusahaan?

Upah Lembur per Jam : Rp 17.341 (Rp 3.000.0000 / 173)
Jam Pertama  : Rp 26.011 (Rp 17.341 x 1,5)
Jam Kedua      : Rp 34.682 (Rp 17.341 x 2)
Jam Ketiga      : Rp 34.682 (Rp 17.341 x 2)
Jam Keempat : Rp 34.682 (Rp 17.341 x 2)
Total                : Rp 130.057,-
Jadi Perusahaan tersebut harus membayar upah lembur operator produksi sebesar Rp 130.057.

Contoh Kasus II

Seorang operator produksi dengan gaji bulanan Rp. 3.000.000 diminta oleh perusahaan untuk kerja lembur pada hari minggu selama 8 jam. Maka berapakah upah lembur yang harus dibayar oleh perusahaan untuk operator?

Upah Lembur per Jam : Rp 17.341 (Rp 3.000.000 / 173)
Jam Pertama sampai Jam ketujuh : Rp 242.774 (Rp 17.341 x 2 x 7)
Jam kedelapan                                   : Rp 52.023 (Rp 17.341 x 3)
Total : Rp 294.797,-
Jadi Perusahaan tersebut harus membayar upah lembur sebesar Rp 294.797,- kepada operator tersebut.

Simulasi Perhitungan Upah Lembur

Simulasi Perhitungan Upah Lembur Simulasi Perhitungan Upah Lembur Simulasi Perhitungan Upah Lembur

 

 

 

Demikian ulasan yang dapat kami sajikan untuk anda terkait dengan cara menghitung upah lembur karyawan dengan benar. Semoga bisa memberikan pemahaman dan menambah wawasan. Sekian dari kami terimakasih.

Categories Ekonomi

Leave a Comment