4 Kerajaan Islam Terbesar Di Sumatera

4 Kerajaan Islam Terbesar Di Sumatera – Pada kesempatan ini akan mengulas tentang Kerajaan Islam di Sumatera yang mencakup sejarah kerajaan Perlaksejarah kerajaan Samudera Pasai, sejarah kerajaan Aceh Darussalam dan sejarah kerajaan Malaka. Dengan memahami informasi ini, akan menambah wawasan Ilmu Sejarah Nusantara yang anda miliki saat ini. Artikel ini diharapkan menjadi rujukan terbaik untuk memahami Kerajaan Islam terbesar di Sumatera bagi anda.

Abad 7  M diyakini sebagai saat-saat dimana ajaran islam masuk di nusantara. Akan tetapi banyak pula teori-teori lain yang menceritakan tentang sejarah masuknya islam di nusantara. Sebagai simbol masuknya ajaran islam di nusantara, ada banyak kerajaan-kerajaan islam yang telah berdiri, sebut saja kerajaan Perlak yang diyakini sebagai kerajaaan islam pertama di nusantara.

Kerajaan Islam Terbesar Di Sumatera

Banyak kerajaan-kerajan besar yang diyakini sebagai kerajaan yang lebih dulu mengenal ajaran islam di pulau sumtra selain kerajaan perlak. Berikut ini kami akan menyediakan 4 Kerajann Islam terbesar di Sumatera.

Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak merupakan sebuah kerajaan islam yang berada di wilayah Aceh dan berdiri pada tahun 840 M. Kemunculan teori tentang Kerajaan Perlak mengubah pemahaman masyarakat bahwa kerajaan islam tertua adalah Kerajaan Samudra Pasai.

Sejarah Kerajaan Islam Perlak

Sultan pertama yang menjabat di Kerajaan Perlak adalah Syeh Maulana Abdul Aziz Syah, beliau merupakan anak dari Ali bin Muhammad bin Ja’far Shodiq dan Makhdum Tansyuri adik dari Maharaja Syahir Nuwi.

Setelah beliau menjabat, ibukota Bandar Perlak langsung berganti nama menjadi Bandar Khalifah untuk mengenang jasa seorang Khalifah dagang yang berjasa mensyiarkan islam di nusantara yang di awali dar wilayah kerajaaan perlak.

Sultan yang Menjabat di Kerajaan Perlak

Berikut merupakan nama-nama dari raja-raja yang pernah menjabat sebagai sultan kerajaan perlak.

  • Sultan Alaiddin Syeh Maulana Abdul Aziz Shah (225-249H/840-864M)
  • Sultan Alaiddin Syeh Maulana Abdul Rahim Shah (249-285H/864-888M)
  • Sultan Alaiddin Syeh Maulana Abbas Shah (285-300H/888-913M)

Masa pemerintahan sultan-sultan diatas disebut dengan Dinasti Syeh Maulana Abdul Aziz Syah yang dimana pada beliau adalah penganut ajaran Syi’ah. Pada masa pemerintahan Dinasti Syeh Maulana Abdul Aziz Syah, paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah mulai tersebar di kalangan masyarakat, hal ini menjadi masalah tersendiri untuk paham Syi’ah.

Setelah masa jabatan Sultan Alaiaddin Syeh Maulana Abbas Syah, terjadilah pergolakan antara dua golongan yang menyebabkan perang saudara, sehingga selama dua tahun jabatan kesultanan menjadi kosong.

Kemudian untuk mengisi kekosongan tersebut diangkatlah Syeh Maulana Ali Mughayat Syah pada tahun 302 H atau 915M. Namun setelah 3 tahun menjabat, pergolakan antara 2 golongan kembali terjadi lagi yang akhirnya dimenangkan oleh pihak ahlus sunnah wal jama’ah, sehingga tahta kesultanan selanjutnya di ambil oleh keturunan Meurah Peurlak asli, yaitu:

  • Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (306-310H/928-932M)
  • Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat(310-334H/932-956M)
  • Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat(334-362H/956-983M)

Di akhir masa pemerintahan Sultan Abdul Malik, pergolakan antar 2 golongan kembali terjadi sampai 4 tahun lamanya yang di akhiri dengan membagi wilayah kekuasaan menjadi dua.

Kemudian pada tahun 662H/1263 Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan Berdaulat menyatukan wilayah perlak yang menjadi satu kembali. Beliau adalah sultan terakhir dari kerajaan perlak, setelahnya kerajaan perlak disatukan dengan kerajaan Samudra pasai.

Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai merupakan Kerajaan ke 2 di Sumatra setelah kerajaan Perlak. Sumber yang masyhur menyatakan bahwa kerajaan Samudra Pasai telah berdiri sejak tahun 1282M dengan pendirinya adalah Sultan Mailk al Shalih. Pernyataan tersebut didapatkan dari catatan seorang pengembara dari Maroko yaitu Ibnu Batutah.

Sejarah Kerajaan Islam Samudera Pasai

Namun di samping itu juga ada satu pendapat yang menyatakan bahwa kerajaan Samudra Pasai sudah berdiri sejak lama tepatnya pada tahun 1024M dengan pendirinya adalah Meurah Khair yang telah bergelar sebagai Maharaja Mahmud Syah yang memerintah sampai pada tahun 1078M.

Pada saat Marcopolo mengunjungi daerah Sumatra pada tahun 1346M menyatakan bahwa agama Islam sudah di syiarkan 1 abad lamanya, dan dinyatakan pula bahawa penduduk disana mengikuti madzhab Imam Syafi’i.

Kerajaan Samudra Pasai merupakan sebuah kerajaan yang makmur dimana Perdagangan dan Pelayaran menjadi mata pencaharian penduduk terbesar, alasannya adalah dari segi Geografis dan ekonomi pada saat itu letak Kerajaan Samudra Pasai tepat di tempat yang strategis yaitu penghubung antara pusat perdagangan Cina, India, Arab dan Indonesia.

Selain memiliki kondisi perekonomian yang baik, kerajaan Samudra Pasai merupakan pusat tempat belajar agama Islam dan tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negri untuk mebicarakan urusan agama dan keduniaan. Namun pada saat sultan terakhir menjabat tahun 1521 kerajaan Samudra Pasai dikuasai oleh Portugis selama 3 tahun, dan tepat pada tahun 1524, kerajaan Samudra Pasai di Ganti menjadi Kerajaan Aceh Darussalam.

Kerajaan Malaka

Pada tahun 1405 Kerajaan Malaka didirikan oleh seorang yang bernama Parameswara keturunan dari Sang Nila Utama dengan Sri Beni Putri Permaisuri Iskandar Syah Ratu Bintan yang hijrah ke Tumasik dengan gelar Tribuwana.

Sejarah Kerajaan Islam Malaka

Namun, pada saat Parameswara menjabat sebagai raja di Tumasik, tahtanya telah diambil alih oleh kerajaan Majapahit yang membuatnya akhirnya melarikan diri ke Selat Malaka dan mendirikan kerajaan Malaka, dan meninggal pada tahun 1424M.

Kemudian ia digantikan oleh Sultan Muhammad Syah pada tahun 1414M sampai 1444. Pada pemerintahan Sultan Muhammad Syah ini, Kerajaan Malaka telah jatuh ke tangan Portugis. Dengan berbagai cara, Sultan Muhammad Syah ingin merebut kembali kerajaan Malaka dari tangan Portugis, namun hingga ajalnya tiba usahanya tak membuahkan hasil.

Kemudian usaha Sultan Muhammad Syah dilanjutkan oleh putranya yang pada akhirnya berhasil merebut kembali Kerajaan Malaka yang di teruskan sebagai Kesultanan Johor dan berpusat di Johor. Sebagai sultan pertama kesultanan Johor ia bergelar Sultan A’lauddin Riayat Syah II(1528-1564M).

Kerajaan Aceh Darussalam

Pada tahun 1514 Sultan Mughayat Syah di lantik sebagai sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam yang memiliki wilayah mulai Aru hingga Pandu di pantai utara dan Jaya sampai ke Barus di pantai barat dengan ibukota Banda Aceh.

Sejarah Kerajaan Islam Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh Darussalam merupakan revolusi dari enam kerajaan yang telah dikuasai oleh Portugis yaitu, Samudra Pasai, Perlak, Tamiang, Indra Purba, Indra Jaya, dan Pidie dengan tekad untuk mengusir Portugis dari wilayah mereka sehingga meletuslah beberapa pertarungan sengit antara dua belah pihak(1521,1526,1528, dan 1542M) yang kemudian akhirnya Portugis dapat dihancurkan.

Pada hari Selasa 12 Dzulhijjah 936H/7 Agustus 1530M, Sultan Mughayat Syah akhirnya berpulang dengan tenang setelah apa yang ia usahakan berbuah hasilnya.

Kerajaan Aceh Darussalam merupakan salah satu kerajaan besar dengan pondasi Islam yang kuat di Sumatra, Kerajaan ini memiliki bendera kerajaan yang di ciptakan oleh Sultan Mughayat Syah yang disebut dengan Alaam Zulfikar.

Raja terakhir dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah yang memerintah sejak tahun 1870-1904, berakhirnya kerajaan Aceh Darussalam karena terjadinya masa-masa suram yang terus menghampiri, sejak itu sudah tercatat ada 31 Raja yang pernah menjabat di